1.TUGU JOGJA
Tugu Jogja merupakan landmark Kota Yogyakarta yang paling terkenal. Monumen ini berada tepat di tengah perempatan Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan Jendral Soedirman, Jalan A.M Sangaji dan Jalan Diponegoro. Tugu Jogja yang berusia hampir 3 abad memiliki makna yang dalam sekaligus menyimpan beberapa rekaman sejarah kota Yogyakarta.
Tugu Jogja kira-kira didirikan setahun setelah Kraton Yogyakarta berdiri. Pada saat awal berdirinya, bangunan ini secara tegas menggambarkan Manunggaling Kawula Gusti, semangat persatuan rakyat dan penguasa untuk melawan penjajahan. Semangat persatuan atau yang disebut golong gilig itu tergambar jelas pada bangunan tugu, tiangnya berbentuk gilig (silinder) dan puncaknya berbentuk golong (bulat), sehingga disebut Tugu Golong-Gilig.
Secara rinci, bangunan Tugu Jogja saat awal dibangun berbentuk tiang silinder yang mengerucut ke atas. Bagian dasarnya berupa pagar yang melingkar sementara bagian puncaknya berbentuk bulat. Ketinggian bangunan tugu pada awalnya mencapai 25 meter.
Semuanya berubah pada tanggal 10 Juni 1867. Gempa yang mengguncang Yogyakarta saat itu membuat bangunan tugu runtuh. Bisa dikatakan, saat tugu runtuh ini merupakan keadaan transisi, sebelum makna persatuan benar-benar tak tercermin pada bangunan tugu.
Keadaan benar-benar berubah pada tahun 1889, saat pemerintah Belanda merenovasi bangunan tugu. Tugu dibuat dengan bentuk persegi dengan tiap sisi dihiasi semacam prasasti yang menunjukkan siapa saja yang terlibat dalam renovasi itu. Bagian puncak tugu tak lagi bulat, tetapi berbentuk kerucut yang runcing. Ketinggian bangunan juga menjadi lebih rendah, hanya setinggi 15 meter atau 10 meter lebih rendah dari bangunan semula. Sejak saat itu, tugu ini disebut juga sebagai De Witt Paal atau Tugu Pal Putih.
Perombakan bangunan itu sebenarnya merupakan taktik Belanda untuk mengikis persatuan antara rakyat dan raja. Namun, melihat perjuangan rakyat dan raja di Yogyakarta yang berlangsung sesudahnya, bisa diketahui bahwa upaya itu tidak berhasil.
Bila anda ingin memandang Tugu Jogja sepuasnya sambil mengenang makna filosofisnya, tersedia bangku yang menghadap ke tugu di pojok Jl. Pangeran Mangkubumi. Pukul 05.00 - 06.00 pagi hari merupakan saat yang tepat, saat udara masih segar dan belum banyak kendaraan bermotor yang lalu lalang.
2. MALIOBORO
Jogja mungkin sekarang mulai identik dengan Malioboro. Dan setiap orang yang ke Jogja pasti akan menyempatkan untuk datang ke malioboro ini. Tahukah anda sejarah jalan malioboro ini?
Untuk mengetahui sejarah jalan malioboro yang membentang dari utara
keselatan dari stasion tugu ke kantor pos ini, Kita harus memutar mesin
waktu dan kembali ke abad 17 atau abad ke 18 tepatnya pada tahun 1755
dimana sri sultan hamengkubuwono I mengangkat kapiten seorang Cina, Tan
Jin Sing, pada tahun 1755. Nama Jawanya, Setjodingrat, dan tinggal di
ndalem Setjodingratan (kini terletak di sebelah timur Kantor Pos
Besar). Sejak sekitar tahun 1916, kawasan Malioboro sebelah selatan
dikenal sebagai pemukiman Pecinan di Yogyakarta, yang ditandai dengan
rumah-rumah toko yang menjual barang-barang kelontong, emas dan
pakaian.
Kawasan ini kian ramai setelah Kraton membangun Pasar Gedhe (kini Pasar Beringharjo), yang beroperasi sejak 1926. Kawasan Pecinan mulai meluas ke utara, sampai ke Stasiun Tugu (dibangun pada 1887) dan Grand Hotel de Yogya (berdiri pada 1911, kini Hotel Garuda). Malioboro menjadi penghubung titik stasiun sampai Benteng Rusternburg (kini Vredeburg) dan Kraton. Rumah toko menjadi pemandangan lumrah di sepanjang jalan ini . Karena itu, secara kultural, ruang Malioboro merupakan gabungan dua kultur dominan, yakni Jawa dan Cina.
3. KRATON YOGYAKARTA
Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat atau yang sekarang lebih dikenal dengan nama Kraton Yogyakarta merupakan pusat dari museum hidup kebudayaan Jawa yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tidak hanya menjadi tempat tinggal raja dan keluarganya semata, Kraton juga menjadi kiblat perkembangan budaya Jawa, sekaligus penjaga nyala kebudayaan tersebut. Di tempat ini wisatawan dapat belajar dan melihat secara langsung bagaimana budaya Jawa terus hidup serta dilestarikan. Kraton Yogyakarta dibangun oleh Pangeran Mangkubumi pada tahun 1755, beberapa bulan setelah penandatanganan Perjanjian Giyanti. Dipilihnya Hutan Beringin sebagai tempat berdirinya kraton dikarenakan tanah tersebut diapit dua sungai sehingga dianggap baik dan terlindung dari kemungkinan banjir. Meski sudah berusia ratusan tahun dan sempat rusak akibat gempa besar pada tahun 1867, bangunan Kraton Yogyakarta tetap berdiri dengan kokoh dan terawat dengan baik.
Mengunjungi Kraton Yogyakarta akan memberikan
pengalaman yang berharga sekaligus mengesankan. Kraton yang menjadi
pusat dari garis imajiner yang menghubungakn Pantai Parangtritis dan
Gunung Merapi ini memiliki 2 loket masuk, yang pertama di Tepas
Keprajuritan (depan Alun-alun Utara) dan di Tepas Pariwisata (Regol
Keben). Jika masuk dari Tepas Keprajuritan maka wisatawan hanya bisa
memasuki Bangsal Pagelaran dan Siti Hinggil serta melihat koleksi
beberapa kereta kraton sedangkan jika masuk dari Tepas Pariwisata maka
Anda bisa memasuki Kompleks Sri Manganti dan Kedhaton di mana terdapat
Bangsal Kencono yang menjadi balairung utama kerajaan. Jarak antara
pintu loket pertama dan kedua tidaklah jauh, wisatawan cukup menyusuri
Jalan Rotowijayan dengan jalan kaki atau naik becak.
Ada banyak hal yang bisa disaksikan di Kraton Yogyakarta, mulai dari aktivitas abdi dalem yang sedang melakukan tugasnya atau melihat koleksi barang-barang Kraton. Koleksi yang disimpan dalam kotak kaca yang tersebar di berbagai ruangan tersebut mulai dari keramik dan barang pecah belah, senjata, foto, miniatur dan replika, hingga aneka jenis batik beserta deorama proses pembuatannya. Selain itu, wisatawan juga bisa menikmati pertunjukan seni dengan jadwal berbeda-beda setiap harinya. Pertunjukan tersebut mulai dari wayang orang, macapat, wayang golek, wayang kulit, dan tari-tarian. Untuk menikmati pertunjukkan seni wisatawan tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan. Jika datang pada hari selasa wage, Anda bisa menyaksikan lomba jemparingan atau panahan gaya Mataraman di Kemandhungan Kidul. Jemparingan ini dilaksanakan dalam rangka tinggalan dalem Sri Sultan HB X. Keunikan dari jemparingan ini adalah setiap peserta wajib mengenakan busana tradisional Jawa dan memanah dengan posisi duduk.
Usai menikmati pertunjukan macapat, YogYES pun beranjak mengitari kompleks kraton dan masuk ke Museum Batik yang diresmikan oleh Sri Sultan HB X pada tahun 2005. Koleksi museum ini cukup beragam mulai dari aneka kain batik hingga peralatan membatik dari masa HB VIII hingga HB X. Selain itu di museum ini juga disimpan beberapa koleksi hadiah dari sejumlah pengusaha batik di Jogja maupun daerah lain. Saat sedang menikmati koleksi museum, pandangan YogYES tertuju pada salah satu sumur tua yang dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono VIII. Di atas sumur yang telah ditutup menggunakan kasa alumunium tersebut terdapat tulisan yang melarang pengunjung memasukkan uang. Penasaran dengan maksud kalimat tersebut YogYES pun mendekat dan melihat ke dalam sumur, ternyata di dasar sumur terdapat kepingan uang logam dan uang kertas yang berhamburan.
4. CANDI BOROBUDUR
Candi Borobudur pernah terkubur oleh lahar dingin
letusan dahsyat Gunung Merapi pada sekitar tahun 950 M dan baru
ditemukan pada tahun 1814 saat Inggris menduduki Indonesia. Gubernur
Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles mendengar adanya penemuan benda
purbakala berukuran raksasa di desa Bumisegoro, Magelang. Karena
minatnya yang besar terhadap sejarah Jawa (Raffles juga menulis buku
History of Java, 1817), maka Raffles segera memerintahkan H.C.
Cornelius, seorang insinyur Belanda, untuk menyelidiki lokasi penemuan
yang saat itu berupa bukit yang dipenuhi semak belukar.
Tugu Jogja merupakan landmark Kota Yogyakarta yang paling terkenal. Monumen ini berada tepat di tengah perempatan Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan Jendral Soedirman, Jalan A.M Sangaji dan Jalan Diponegoro. Tugu Jogja yang berusia hampir 3 abad memiliki makna yang dalam sekaligus menyimpan beberapa rekaman sejarah kota Yogyakarta.
Tugu Jogja kira-kira didirikan setahun setelah Kraton Yogyakarta berdiri. Pada saat awal berdirinya, bangunan ini secara tegas menggambarkan Manunggaling Kawula Gusti, semangat persatuan rakyat dan penguasa untuk melawan penjajahan. Semangat persatuan atau yang disebut golong gilig itu tergambar jelas pada bangunan tugu, tiangnya berbentuk gilig (silinder) dan puncaknya berbentuk golong (bulat), sehingga disebut Tugu Golong-Gilig.
Secara rinci, bangunan Tugu Jogja saat awal dibangun berbentuk tiang silinder yang mengerucut ke atas. Bagian dasarnya berupa pagar yang melingkar sementara bagian puncaknya berbentuk bulat. Ketinggian bangunan tugu pada awalnya mencapai 25 meter.
Semuanya berubah pada tanggal 10 Juni 1867. Gempa yang mengguncang Yogyakarta saat itu membuat bangunan tugu runtuh. Bisa dikatakan, saat tugu runtuh ini merupakan keadaan transisi, sebelum makna persatuan benar-benar tak tercermin pada bangunan tugu.
Keadaan benar-benar berubah pada tahun 1889, saat pemerintah Belanda merenovasi bangunan tugu. Tugu dibuat dengan bentuk persegi dengan tiap sisi dihiasi semacam prasasti yang menunjukkan siapa saja yang terlibat dalam renovasi itu. Bagian puncak tugu tak lagi bulat, tetapi berbentuk kerucut yang runcing. Ketinggian bangunan juga menjadi lebih rendah, hanya setinggi 15 meter atau 10 meter lebih rendah dari bangunan semula. Sejak saat itu, tugu ini disebut juga sebagai De Witt Paal atau Tugu Pal Putih.
Perombakan bangunan itu sebenarnya merupakan taktik Belanda untuk mengikis persatuan antara rakyat dan raja. Namun, melihat perjuangan rakyat dan raja di Yogyakarta yang berlangsung sesudahnya, bisa diketahui bahwa upaya itu tidak berhasil.
Bila anda ingin memandang Tugu Jogja sepuasnya sambil mengenang makna filosofisnya, tersedia bangku yang menghadap ke tugu di pojok Jl. Pangeran Mangkubumi. Pukul 05.00 - 06.00 pagi hari merupakan saat yang tepat, saat udara masih segar dan belum banyak kendaraan bermotor yang lalu lalang.
2. MALIOBORO
Jogja mungkin sekarang mulai identik dengan Malioboro. Dan setiap orang yang ke Jogja pasti akan menyempatkan untuk datang ke malioboro ini. Tahukah anda sejarah jalan malioboro ini?
Kawasan ini kian ramai setelah Kraton membangun Pasar Gedhe (kini Pasar Beringharjo), yang beroperasi sejak 1926. Kawasan Pecinan mulai meluas ke utara, sampai ke Stasiun Tugu (dibangun pada 1887) dan Grand Hotel de Yogya (berdiri pada 1911, kini Hotel Garuda). Malioboro menjadi penghubung titik stasiun sampai Benteng Rusternburg (kini Vredeburg) dan Kraton. Rumah toko menjadi pemandangan lumrah di sepanjang jalan ini . Karena itu, secara kultural, ruang Malioboro merupakan gabungan dua kultur dominan, yakni Jawa dan Cina.
3. KRATON YOGYAKARTA
Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat atau yang sekarang lebih dikenal dengan nama Kraton Yogyakarta merupakan pusat dari museum hidup kebudayaan Jawa yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tidak hanya menjadi tempat tinggal raja dan keluarganya semata, Kraton juga menjadi kiblat perkembangan budaya Jawa, sekaligus penjaga nyala kebudayaan tersebut. Di tempat ini wisatawan dapat belajar dan melihat secara langsung bagaimana budaya Jawa terus hidup serta dilestarikan. Kraton Yogyakarta dibangun oleh Pangeran Mangkubumi pada tahun 1755, beberapa bulan setelah penandatanganan Perjanjian Giyanti. Dipilihnya Hutan Beringin sebagai tempat berdirinya kraton dikarenakan tanah tersebut diapit dua sungai sehingga dianggap baik dan terlindung dari kemungkinan banjir. Meski sudah berusia ratusan tahun dan sempat rusak akibat gempa besar pada tahun 1867, bangunan Kraton Yogyakarta tetap berdiri dengan kokoh dan terawat dengan baik.
Mengunjungi Kraton Yogyakarta akan memberikan
pengalaman yang berharga sekaligus mengesankan. Kraton yang menjadi
pusat dari garis imajiner yang menghubungakn Pantai Parangtritis dan
Gunung Merapi ini memiliki 2 loket masuk, yang pertama di Tepas
Keprajuritan (depan Alun-alun Utara) dan di Tepas Pariwisata (Regol
Keben). Jika masuk dari Tepas Keprajuritan maka wisatawan hanya bisa
memasuki Bangsal Pagelaran dan Siti Hinggil serta melihat koleksi
beberapa kereta kraton sedangkan jika masuk dari Tepas Pariwisata maka
Anda bisa memasuki Kompleks Sri Manganti dan Kedhaton di mana terdapat
Bangsal Kencono yang menjadi balairung utama kerajaan. Jarak antara
pintu loket pertama dan kedua tidaklah jauh, wisatawan cukup menyusuri
Jalan Rotowijayan dengan jalan kaki atau naik becak.
Ada banyak hal yang bisa disaksikan di Kraton Yogyakarta, mulai dari aktivitas abdi dalem yang sedang melakukan tugasnya atau melihat koleksi barang-barang Kraton. Koleksi yang disimpan dalam kotak kaca yang tersebar di berbagai ruangan tersebut mulai dari keramik dan barang pecah belah, senjata, foto, miniatur dan replika, hingga aneka jenis batik beserta deorama proses pembuatannya. Selain itu, wisatawan juga bisa menikmati pertunjukan seni dengan jadwal berbeda-beda setiap harinya. Pertunjukan tersebut mulai dari wayang orang, macapat, wayang golek, wayang kulit, dan tari-tarian. Untuk menikmati pertunjukkan seni wisatawan tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan. Jika datang pada hari selasa wage, Anda bisa menyaksikan lomba jemparingan atau panahan gaya Mataraman di Kemandhungan Kidul. Jemparingan ini dilaksanakan dalam rangka tinggalan dalem Sri Sultan HB X. Keunikan dari jemparingan ini adalah setiap peserta wajib mengenakan busana tradisional Jawa dan memanah dengan posisi duduk.
Usai menikmati pertunjukan macapat, YogYES pun beranjak mengitari kompleks kraton dan masuk ke Museum Batik yang diresmikan oleh Sri Sultan HB X pada tahun 2005. Koleksi museum ini cukup beragam mulai dari aneka kain batik hingga peralatan membatik dari masa HB VIII hingga HB X. Selain itu di museum ini juga disimpan beberapa koleksi hadiah dari sejumlah pengusaha batik di Jogja maupun daerah lain. Saat sedang menikmati koleksi museum, pandangan YogYES tertuju pada salah satu sumur tua yang dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono VIII. Di atas sumur yang telah ditutup menggunakan kasa alumunium tersebut terdapat tulisan yang melarang pengunjung memasukkan uang. Penasaran dengan maksud kalimat tersebut YogYES pun mendekat dan melihat ke dalam sumur, ternyata di dasar sumur terdapat kepingan uang logam dan uang kertas yang berhamburan.
4. CANDI BOROBUDUR
Siapa yang belum pernah mendengar tentang Candi Borobudur?
Kemegahan, keindahan, serta keunikannya telah membuat Candi yang
dibangun oleh Dinasti Sailendra antara tahun 750 – 842 M ini dikukuhkan
menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia dan pada tahun 1991
ditetapkan oleh UNESCO di dalam Daftar Peninggalan Sejarah Dunia (World Wonder Heritages).
Candi Borobudur pernah terkubur oleh lahar dingin
letusan dahsyat Gunung Merapi pada sekitar tahun 950 M dan baru
ditemukan pada tahun 1814 saat Inggris menduduki Indonesia. Gubernur
Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles mendengar adanya penemuan benda
purbakala berukuran raksasa di desa Bumisegoro, Magelang. Karena
minatnya yang besar terhadap sejarah Jawa (Raffles juga menulis buku
History of Java, 1817), maka Raffles segera memerintahkan H.C.
Cornelius, seorang insinyur Belanda, untuk menyelidiki lokasi penemuan
yang saat itu berupa bukit yang dipenuhi semak belukar.
Pemugaran
pertama langsung dilakukan oleh Raffles, yaitu mulai menebangi
pepohonan dan menyingkirkan semak belukar yang menutupi bangunan raksasa
tersebut. Karena penemuan itu, Raffles mendapat penghargaan sebagai
orang yang memulai pemugaran Candi Borobudur dan mendapat perhatian
dunia. Pada tahun 1835, seluruh area candi sudah berhasil digali. Candi
ini terus dipugar pada masa penjajahan Belanda dan terus dilanjutkan
setelah Indonesia merdeka oleh pemerintah Republik Indonesia dengan
bantuan dari UNESCO. Seluruh proses pemugaran selesai pada tahun 1984.
5. STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer AMIKOM Yogyakarta (selanjutnya disebut STMIK AMIKOM Yogyakarta) merupakan salah satu perguruan tinggi swasta yang berkedudukan di Yogyakarta di bawah naungan Yayasan AMIKOM Yogyakarta. STMIK AMIKOM Yogyakarta merupakan sebuah perguruan tinggi hasil pengembangan dari Akademi Manajemen Informatika dan Komputer "AMIKOM Yogyakarta".
Akademi Manajemen Informatika dan Komputer Yogyakarta sebagai lembaga
pendidikan tinggi yang didirikan berdasarkan keputusan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 084/D/O/1994 tentang
Pemberian Status Terdaftar kepada Jurusan / Program Studi untuk Jenjang
Program Studi D-III pada AMIKOM Yogyakarta di Yogyakarta dan bernaung di
bawah Yayasan AMIKOM Yogyakarta. Memiliki Program Studi di bawah
Yayasan AMIKOM Yogyakarta. Memiliki Program Studi Manajemen Informatika
dan Sistem Informasi. Program studi ini masing-masing dikelola oleh
seorang Ketua Jurusan dan Sekretaris Jurusan yang didukung oleh
Perangkat Dosen, dan Staff Administrasi.
penghargaan yang pernah di dapatkan oleh STMIK AMIKOM YOGYAKARTA :
2. Nominator pada Asia Pacific ICT Alliance (APICTA) Awards - Arief Setyanto, S.Si, MT
3. The Best e-Practice Asia Pacific Economic Digital Opprtunity Center Award (ADOC) Award - Arief Setyanto, S.Si, MT
4. The Best e-Practice Asia Pacific Economic Digital Opprtunity Center Award (ADOC) Award - Kusrini, Dr., M.Kom
5. Nominator pada Asia Pacific ICT Alliance (APICTA) Awards - Andi Sunyoto, M.Kom
6. Nominator pada Asia Pacific ICT Award Alliance (APICTA) - Hendro Wibowo
7. Merit award pada Asia Pacific ICT Alliance (APICTA) Awards - Hanif Al Fatta, M.Kom
8. Nominator Urban Animation International Festival - M. Suyanto, Prof. Dr, M.M. dan Aryanto Yuniawan, A.Md
9. Semi Finalis ASEAN Anthem Direktorat Jendral Kerjasama ASEAN, Departemen Luar Negeri - Pandan P Purwacandra, S.Kom
2. Nominator Indonesia ICT Award (INAICTA) - Andi Sunyoto, M.Kom
3. 2nd winner Indosat Wireless Information Communication (IWIC) Award - Andi Sunyoto, M.Kom
4. Merit Winner Indonesia ICT Award (INAICTA) - Aryanto Yuniawan, A.Md
5. Merit Award Indonesia ICT Award (INAICTA) - Arief Setyanto, S.Si, MT
6. Winner Integrated Research Result Award - Kusrini, Dr., M.Kom
7. RunnerUp Reserch LIPI Award - Kusrini, Dr., M.Kom
8. Winner Indonesia ICT Award (INAICTA) - Hendro Wibowo
Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer AMIKOM Yogyakarta (selanjutnya disebut STMIK AMIKOM Yogyakarta) merupakan salah satu perguruan tinggi swasta yang berkedudukan di Yogyakarta di bawah naungan Yayasan AMIKOM Yogyakarta. STMIK AMIKOM Yogyakarta merupakan sebuah perguruan tinggi hasil pengembangan dari Akademi Manajemen Informatika dan Komputer "AMIKOM Yogyakarta".
Akademi Manajemen Informatika dan Komputer Yogyakarta sebagai lembaga
pendidikan tinggi yang didirikan berdasarkan keputusan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 084/D/O/1994 tentang
Pemberian Status Terdaftar kepada Jurusan / Program Studi untuk Jenjang
Program Studi D-III pada AMIKOM Yogyakarta di Yogyakarta dan bernaung di
bawah Yayasan AMIKOM Yogyakarta. Memiliki Program Studi di bawah
Yayasan AMIKOM Yogyakarta. Memiliki Program Studi Manajemen Informatika
dan Sistem Informasi. Program studi ini masing-masing dikelola oleh
seorang Ketua Jurusan dan Sekretaris Jurusan yang didukung oleh
Perangkat Dosen, dan Staff Administrasi.penghargaan yang pernah di dapatkan oleh STMIK AMIKOM YOGYAKARTA :
International Award
1. ASEAN Developer Citra Award - M. Suyanto, Prof. Dr, M.M2. Nominator pada Asia Pacific ICT Alliance (APICTA) Awards - Arief Setyanto, S.Si, MT
3. The Best e-Practice Asia Pacific Economic Digital Opprtunity Center Award (ADOC) Award - Arief Setyanto, S.Si, MT
4. The Best e-Practice Asia Pacific Economic Digital Opprtunity Center Award (ADOC) Award - Kusrini, Dr., M.Kom
5. Nominator pada Asia Pacific ICT Alliance (APICTA) Awards - Andi Sunyoto, M.Kom
6. Nominator pada Asia Pacific ICT Award Alliance (APICTA) - Hendro Wibowo
7. Merit award pada Asia Pacific ICT Alliance (APICTA) Awards - Hanif Al Fatta, M.Kom
8. Nominator Urban Animation International Festival - M. Suyanto, Prof. Dr, M.M. dan Aryanto Yuniawan, A.Md
9. Semi Finalis ASEAN Anthem Direktorat Jendral Kerjasama ASEAN, Departemen Luar Negeri - Pandan P Purwacandra, S.Kom
Nasional Award
1. Nominator Indonesia ICT Award (INAICTA) - Asro Nasiri, Drs, M.Kom dan Tohir Ismail, S.Kom2. Nominator Indonesia ICT Award (INAICTA) - Andi Sunyoto, M.Kom
3. 2nd winner Indosat Wireless Information Communication (IWIC) Award - Andi Sunyoto, M.Kom
4. Merit Winner Indonesia ICT Award (INAICTA) - Aryanto Yuniawan, A.Md
5. Merit Award Indonesia ICT Award (INAICTA) - Arief Setyanto, S.Si, MT
6. Winner Integrated Research Result Award - Kusrini, Dr., M.Kom
7. RunnerUp Reserch LIPI Award - Kusrini, Dr., M.Kom
8. Winner Indonesia ICT Award (INAICTA) - Hendro Wibowo

Tidak ada komentar:
Posting Komentar